LONDON – Kegaduhan soal inflasi di Inggris belum mereda. Salah satu anggota Komite Kebijakan Moneter Bank of England (BoE), Megan Greene, kembali menabuh genderang peringatan. Dalam pernyataan terbarunya, ia menegaskan bahwa ekonomi Inggris kemungkinan besar akan mengalami apa yang disebut sebagai efek putaran kedua (second-round effects) dari siklus inflasi yang tengah berlangsung.
Pernyataan Greene ini bukanlah angin segar bagi mereka yang berharap BoE segera mengendurkan sikap hawkish-nya. Ia secara eksplisit menyuarakan kekhawatiran mendalam terkait pertumbuhan upah, yang menurut indikasi awal akan mencapai sekitar 3,5% tahun depan. Baginya, angka tersebut adalah sinyal bahaya yang tak bisa diabaikan.
Nada Hawkish yang Konsisten
Sikap waspada Greene sebenarnya bukan hal baru. Sebagai pengingat, dalam pertemuan kebijakan September lalu, ia termasuk dalam kelompok minoritas tiga anggota dewan yang memilih untuk menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin. Keputusan itu diambil di tengah mayoritas yang memilih untuk mempertahankan suku bunga.
Logika di balik sikapnya cukup jelas: menunggu bukti yang lebih jelas tentang persistensi inflasi bisa membuat bank sentral bermain kejar-kejaran di kemudian hari. Dalam pandangannya, risiko terlambat bertindak jauh lebih mahal daripada risiko bertindak terlalu cepat.
“Pasar saat ini tengah berada dalam mode wait-and-see yang intens. Pernyataan dari pejabat bank sentral seperti ini menjadi bahan bakar utama pergerakan volatilitas jangka pendek, terutama bagi mata uang Sterling,” ujar seorang analis strategi pasar kepada GOLDXIETY News.
Implikasi bagi Pasar Forex
Bagi para trader di pasar forex, komentar Greene ini kembali menegaskan bahwa narasi hawkish di Inggris masih hidup. Pernyataan-pernyataan seperti ini dapat memberikan dukungan fundamental bagi Poundsterling, terutama jika data ekonomi selanjutnya sejalan dengan kekhawatiran yang diungkapkannya.
Beberapa poin penting yang perlu dicermati pelaku pasar:
- Risiko efek putaran kedua (second-round effects) dapat membuat inflasi lebih sulit diturunkan ke target.
- Pertumbuhan gaji yang kuat (3,5% per tahun) berpotensi menjadi pendorong inflasi yang persisten.
- Perpecahan suara di dalam dewan BoE menunjukkan ketidakpastian arah kebijakan moneter ke depan.
- Setiap data ketenagakerjaan dan inflasi berikutnya akan menjadi katalis penting bagi pergerakan GBP.
Dengan nada yang masih hawkish dari Greene, spekulasi mengenai kemungkinan pengetatan lanjutan akan tetap menjadi topik hangat di kalangan pelaku pasar. Fokus kini beralih pada bagaimana data ekonomi riil akan membenarkan atau mementahkan kekhawatiran yang disuarakannya.
