GOLDXIETYGOLDXIETY News
Back to Latest

Goldman Sachs: Yuan Undervalued hingga 25%, Pasar Remehkan Potensi Penguatan

Goldman Sachs memproyeksikan yuan berpotensi menguat tajam karena undervalued hingga 25%, memicu pergeseran arus modal dan dinamika mata uang Asia.

G

GOLDXIETY News

October 13, 2026· 2 min read· 3,576 views
Goldman Sachs: Yuan Undervalued hingga 25%, Pasar Remehkan Potensi Penguatan

Pasar finansial global dinilai masih memandang sebelah mata ruang apresiasi mata uang Tiongkok. Analisis terbaru dari Goldman Sachs menyebutkan bahwa valuasi yuan saat ini berada dalam posisi undervalued hingga 25 persen, mengindikasikan bahwa para pelaku pasar belum sepenuhnya mengantisipasi seberapa jauh mata uang Negeri Tirai Bambu ini dapat melaju naik.

Efek Berantai ke Valuta Asia dan Aliran Modal

Penguatan yuan yang berlangsung secara gradual dan mendapat toleransi dari otoritas moneter diproyeksikan bakal memicu efek berantai ke seluruh pasar valuta Asia. Mata uang di kawasan yang memiliki keterkaitan erat dengan siklus perdagangan Tiongkok diperkirakan akan memperoleh manfaat signifikan seiring hadirnya jangkar moneter yang lebih kokoh di kawasan regional.

Jika yuan menguat terhadap dolar Amerika Serikat dan euro, tensi dagang internasional berpeluang mereda. Kendati demikian, apresiasi ini bakal menekan margin laba para eksportir Tiongkok, sekaligus menggeser keuntungan kompetitif ke korporasi yang bertumpu pada sektor teknologi bernilai tinggi serta konsumsi domestik. Dari perspektif pemodal internasional, prospek penguatan kurs ini menjadi nilai tambah yang dapat mengerek imbal hasil dan menarik arus modal masuk ke obligasi maupun ekuitas onshore Tiongkok.

“Kekuatan mata uang utama regional selalu menjadi jangkar psikologis yang penting. Arah kebijakan kurs akan secara langsung mendikte selera risiko investor terhadap aset-aset di sekitarnya,” ujar seorang analis valuta asing.

Faktor Penahan: Ketangguhan Dolar dan Risiko Minyak

Meski prospek apresiasi yuan terbilang substansial, jalur penguatan tersebut tidak lepas dari hambatan. Goldman Sachs menggarisbawahi bahwa risiko terbesar bagi proyeksi ini berasal dari keperkasaan dolar AS itu sendiri.

  • Ketegangan Geopolitik dan Inflasi: Dolar AS masih terus ditopang oleh tingginya ketidakpastian geopolitik serta laju inflasi yang persisten.
  • Sentimen Suku Bunga The Fed: Potensi lonjakan harga minyak global yang dipicu oleh konflik terkait Iran dapat memaksa Federal Reserve mempertahankan sikap kebijakan moneter yang hawkish, yang pada akhirnya dapat menahan laju apresiasi yuan.

Secara keseluruhan, tarikan antara potensi pemulihan valuasi yuan dan daya tahan greenback akan menjadi panggung utama penentu arah pasar mata uang dalam periode mendatang.