GOLDXIETYGOLDXIETY News
Back to Latest

Jordi Visser: Crypto Berpotensi Ungguli Saham AI, Agen AI Dorong Permintaan

Veteran Wall Street Jordi Visser menilai crypto bisa mengungguli saham AI. Ia memperluas portofolio di luar Bitcoin, Ether, dan Solana.

G

GOLDXIETY News

October 27, 2026· 2 min read· 77 views
Jordi Visser: Crypto Berpotensi Ungguli Saham AI, Agen AI Dorong Permintaan

Jordi Visser, veteran Wall Street yang pernah berkarier di Morgan Stanley dan Weiss, melontarkan pandangan yang menantang arus utama. Menurutnya, crypto berpotensi mengungguli saham AI. Pernyataan itu muncul ketika ia memperluas kepemilikan aset digitalnya di luar Bitcoin, Ether, dan Solana.

Bagi Visser, hubungan antara AI dan crypto bukan sekadar dua tema pasar yang sedang populer. Ia menilai agen AI meningkatkan permintaan terhadap crypto. Dalam pandangannya, crypto punya peran yang lebih besar ketika AI bergerak dari sekadar alat bantu menjadi aktor yang menjalankan transaksi dan interaksi digital.

Agen AI sebagai katalis baru

Gagasan yang diangkat Visser menyoroti perubahan cara pasar memandang crypto. Jika sebelumnya Bitcoin dan Ether mendominasi narasi, kini perhatian mulai bergeser ke infrastruktur yang bisa dipakai oleh agen AI. Ini adalah tesis yang menarik, tetapi juga perlu diuji: apakah permintaan dari agen AI akan cukup material untuk mengubah struktur pasar, bukan hanya menciptakan sentimen jangka pendek?

Dalam analisis GOLDXIETY News, perlu dibedakan antara ekspektasi dan realisasi. Narasi AI memang kuat, namun pasar crypto terkenal cepat mengubah harga menjadi ekspektasi. Visser sendiri tidak sedang membicarakan satu aset tunggal; ia memperluas portofolio setelah Bitcoin, Ether, dan Solana. Langkah itu menunjukkan minat pada diversifikasi, bukan sekadar bertaruh pada satu token.

Crypto versus saham AI

Klaim bahwa crypto bisa mengungguli saham AI akan bergantung pada banyak faktor, termasuk likuiditas, regulasi, dan adopsi nyata. Saham AI memiliki dasar laba perusahaan dan arus kas, sementara crypto sering bergerak lebih cepat karena sentimen dan perubahan narasi. Karena itu, membandingkan keduanya bukan soal mana yang lebih “benar”, melainkan mana yang lebih cocok dengan profil risiko investor.

“Pasar sedang mencari narasi yang menghubungkan pertumbuhan teknologi dengan arus likuiditas baru. Crypto dan AI sama-sama menarik, tetapi keduanya punya profil risiko yang berbeda,” kata seorang analis pasar.

Poin-poin utama dari pernyataan Visser:

  • Ia adalah veteran Wall Street dengan latar belakang Morgan Stanley dan Weiss.
  • Ia menilai crypto berpotensi mengungguli saham AI.
  • Agen AI disebut meningkatkan permintaan terhadap crypto.
  • Ia memperluas kepemilikan di luar Bitcoin, Ether, dan Solana.

Bagi pelaku pasar, pernyataan ini lebih tepat dibaca sebagai sinyal untuk memantau perkembangan narasi AI di sektor crypto, bukan sebagai jaminan kinerja. Jika agen AI benar-benar menjadi pengguna aktif infrastruktur digital, dampaknya bisa lebih dari sekadar kenaikan harga jangka pendek. Namun, tanpa bukti adopsi yang jelas, klaim outperform tetap merupakan tesis yang perlu diuji oleh waktu.