Gangguan pasokan minyak dari Timur Tengah akibat insiden pada pipa Saudi ternyata tidak separah yang dikhawatirkan pasar. JPMorgan dalam catatan terbarunya menilai aliran minyak di kawasan itu masih bertahan, meski terdapat penurunan signifikan dibandingkan rata-rata tahun lalu.
Pernyataan ini muncul di tengah tekanan pasar yang sempat bergejolak setelah serangan Houthi dan insiden pipa tersebut. Data menunjukkan bahwa pasokan minyak yang terganggu lebih kecil dari perkiraan awal, yang menjadi salah satu faktor mengapa harga minyak mentah jenis WTI dan Brent mengalami penurunan selama tiga sesi beruntun pekan lalu.
Premi Risiko Masih Menjadi Faktor Utama
Meski aliran minyak menunjukkan ketahanan, JPMorgan mengingatkan bahwa risiko belum sepenuhnya hilang. Pasalnya, pengalihan rute pasokan sangat bergantung pada kelancaran Selat Hormuz, salah satu jalur pelayaran minyak paling kritis di dunia. Jika selat tersebut terganggu, maka dua titik rawan utama dalam rantai pasok minyak global akan berada dalam satu skenario yang sama.
Dengan harga WTI yang berada di kisaran USD 100 per barel dan Brent yang sudah menembus level tersebut, pasar saat ini telah memperhitungkan premi keamanan yang cukup besar. Artinya, potensi kenaikan harga selanjutnya hanya akan terjadi jika ada gangguan baru yang benar-benar signifikan. Sebaliknya, penurunan harga lebih lanjut membutuhkan bukti bahwa pemulihan pasokan bersifat permanen, bukan sekadar fluktuasi sementara.
“Pasar sedang berada dalam mode wait-and-see. Premi risiko sudah terhitung mahal, sehingga pergerakan harga berikutnya akan sangat ditentukan oleh data konkret, bukan sekadar narasi geopolitik,” ujar seorang analis strategis kepada GOLDXIETY News.
Data Ekspor dan Pengiriman Jadi Sorotan
Para trader akan mencermati data pengiriman dan ekspor mingguan untuk mengonfirmasi bahwa pemulihan aliran minyak benar-benar terjadi. Data tersebut menjadi indikator awal apakah gangguan pasokan sudah teratasi atau justru masih berlanjut secara tersembunyi.
JPMorgan menyebut kondisi aliran minyak saat ini sebagai “sangat kuat” secara relatif, meski volumenya masih sekitar 6 juta barel per hari di bawah rata-rata tahun lalu. Angka ini menunjukkan bahwa meskipun gangguan tidak separah yang dikhawatirkan, pasar tetap harus mewaspadai potensi gejolak jangka pendek.
- Harga minyak turun tiga sesi beruntun pekan lalu meski ada serangan Houthi.
- Ketergantungan pada Selat Hormuz membuat risiko pasokan tetap tinggi.
- Data ekspor dan pengiriman mingguan menjadi kunci konfirmasi pemulihan.
Dengan dinamika ini, para pelaku pasar disarankan untuk tetap waspada terhadap setiap perkembangan baru di kawasan Timur Tengah, sembari menunggu bukti empiris yang lebih kuat mengenai keberlanjutan aliran pasokan.
