GOLDXIETYGOLDXIETY News
Back to Latest

Korea Utara Gunakan Talenta Asing untuk Menyusup ke Perusahaan AS, Laporan Baru Mengungkap

DPRK memanfaatkan pekerja IT dari negara ketiga untuk lolos wawancara kerja, lalu posisi diambil alih operator Korea Utara.

G

GOLDXIETY News

September 13, 2026· 2 min read· 1,575 views
Korea Utara Gunakan Talenta Asing untuk Menyusup ke Perusahaan AS, Laporan Baru Mengungkap

Laporan terbaru mengungkap taktik baru Korea Utara dalam upaya infiltrasi ke perusahaan-perusahaan Amerika Serikat. Alih-alih mengirim langsung agennya, rezim Pyongyang kini memanfaatkan pekerja IT dari negara ketiga untuk melewati proses rekrutmen yang ketat. Setelah posisi berhasil didapat, kursi tersebut kemudian diam-diam diambil alih oleh operator Korea Utara. Ini adalah modus yang lebih halus dan sulit dideteksi, menyasar celah dalam sistem rekrutmen global.

Modus Operandi: Pekerja Asing sebagai Ujung Tombak

Menurut laporan tersebut, pekerja IT asing yang direkrut dari negara ketiga berperan sebagai 'pintu masuk' awal. Mereka menghadiri wawancara kerja, menunjukkan keahlian teknis yang mumpuni, dan membangun kesan positif di hadapan perekrut. Namun, setelah kontrak ditandatangani dan akses internal diberikan, kendali atas posisi tersebut segera berpindah tangan ke operator Korea Utara. Praktik ini tidak hanya mengancam keamanan data perusahaan, tetapi juga membuka celah untuk spionase industri dan potensi sabotase.

Metode ini menunjukkan peningkatan kecanggihan operasi siber Korea Utara yang sebelumnya lebih dikenal melalui serangan malware atau peretasan langsung. Dengan menyamar sebagai karyawan sah, para operator dapat bergerak lebih leluasa di dalam jaringan perusahaan, mengakses informasi sensitif, dan membangun koneksi yang lebih dalam tanpa menimbulkan kecurigaan.

“Ini adalah ancaman yang sangat senyap. Banyak perusahaan tidak menyadari bahwa orang yang mereka pekerjakan bukanlah orang yang benar-benar ada di balik layar. Ini adalah serangan terhadap kepercayaan dan proses rekrutmen itu sendiri, yang bisa berdampak jauh lebih luas daripada sekadar kebocoran data,” ujar seorang analis keamanan siber yang memantau tren ini.

Dampak dan Tindakan Pencegahan yang Perlu Diperhatikan

  • Perusahaan perlu meningkatkan verifikasi identitas dan proses wawancara video secara lebih ketat.
  • Pemantauan aktivitas karyawan secara berkelanjutan, terutama untuk akses data sensitif, menjadi krusial.
  • Kerja sama antara sektor swasta dan pemerintah dalam berbagi intelijen ancaman siber harus diperkuat untuk mengantisipasi taktik baru ini.

Bagi para pelaku industri kripto dan teknologi finansial, yang sering kali menjadi target karena nilai aset digitalnya, laporan ini menjadi pengingat bahwa keamanan tidak hanya soal teknologi, tetapi juga soal manusia dan proses. Kepercayaan tanpa verifikasi adalah celah yang siap dieksploitasi.