Bank of England kembali berada di bawah sorotan pasar. MUFG memperkirakan bank sentral Inggris akan menaikkan suku bunga pada November, langkah yang akan memperpanjang siklus pengetatan yang kini digerakkan oleh guncangan harga energi. Inflasi Inggris disebut telah menembus 4%, dan menurut MUFG kenaikan pada 5 November akan menjadi kelanjutan dari gelombang pengetatan serupa yang tengah berlangsung di sejumlah bank sentral lain.
Sterling Bergantung pada Sinyal Lanjutan
Bagi pasar valuta asing, keputusan November bukan satu-satunya katalis. MUFG menilai bahwa guidance yang mengarah pada kenaikan lanjutan pada Februari justru berpotensi menopang sterling, khususnya terhadap mata uang dari negara-negara yang bank sentralnya dipandang lebih lambat merespons tekanan harga. Dengan kata lain, yang diperdagangkan pasar bukan hanya kenaikan bulan ini, melainkan seberapa jauh BoE bersedia memberi isyarat bahwa langkah tersebut belum menjadi akhir dari siklus.
"Pasar jarang menghukum bank sentral hanya karena menaikkan suku bunga. Yang mereka hukum adalah bank sentral yang tampak ragu soal langkah berikutnya, karena keraguan semacam itu langsung tercermin di harga mata uang," demikian gambaran seorang analis soal sentimen yang kerap mendominasi perdagangan menjelang keputusan bank sentral.
Gilt dan Saham Domestik Jadi Titik Paling Rapuh
Di pasar obligasi, MUFG menempatkan gilt sebagai aset yang lebih rentan dibanding sterling. Yield 10 tahun Inggris saat ini sudah berada di ujung atas rentang negara-negara G7, dan pengetatan lanjutan di tengah ruang fiskal yang menyempit menjelang Budget berpotensi terus menekan surat utang berdurasi panjang. Kombinasi suku bunga tinggi dan biaya energi yang mahal juga membebani saham-saham Inggris yang berorientasi domestik, sementara bobot sektor energi yang besar di FTSE 100 memberikan sebagian penyeimbang.
Poin yang Perlu Dicermati
- Keputusan BoE pada 5 November, dan yang tak kalah penting, sinyal arah kebijakan untuk Februari.
- Posisi yield 10 tahun Inggris yang sudah berada di batas atas rentang G7.
- Tekanan pada saham berfokus domestik versus penyangga dari emiten energi di FTSE 100.
- Harga minyak dan gas sebagai variabel penentu arah inflasi ke depan.
Minyak dan gas jelas menjadi faktor penentu utama. Karena tagihan energi rumah tangga menjadi pendorong kenaikan inflasi yang diperkirakan, lonjakan harga lebih lanjut yang terkait dengan perang di Timur Tengah akan memperkuat tekanan inflasi tersebut, dan pada akhirnya memperbesar peluang pengetatan tambahan dari BoE. Dalam kerangka itu, sterling punya alasan untuk tetap ditopang, sementara gilt dan saham domestik menanggung beban penyesuaian yang lebih berat.
