Tekanan di pasar obligasi Amerika Serikat kembali menguat pada perdagangan sesi Amerika, mendorong imbal hasil (yield) tenor 10 tahun mendekati level tertinggi dalam 19 tahun terakhir. Meski arus berita dari kawasan tersebut relatif minim, pergerakan harga justru menunjukkan volatilitas yang signifikan, menandakan ketegangan pasar yang masih tinggi pasca keputusan Federal Open Market Committee (FOMC) pekan ini.
Imbal hasil tenor 2 tahun juga ikut melonjak ke level 4,75%, tertinggi sejak 2024. Pergerakan ini memicu spekulasi akan potensi inversi kurva imbal hasil (yield curve inversion) jika The Fed benar-benar melanjutkan siklus pengetatan moneternya. Sementara itu, data industrial production AS yang dirilis hari ini mencatatkan pertumbuhan 0,0%, jauh di bawah ekspektasi pasar yang memperkirakan kenaikan 0,3%.
Jepang Melakukan Rate Check di Tengah Tekanan Yen
Dari Asia, muncul laporan bahwa Bank of Japan (BOJ) telah melakukan pemeriksaan nilai tukar (FX rate check) sebagai respons atas pelemahan yen yang terus berlanjut. Langkah ini biasanya dianggap sebagai sinyal awal kemungkinan intervensi langsung di pasar valuta asing. Dampaknya langsung terasa, dengan yen menjadi mata uang yang paling melemah di antara mata uang utama lainnya, sementara dolar Australia memimpin penguatan.
Di sisi lain, harga emas berhasil mencatatkan kenaikan signifikan sebesar USD 41 menjadi USD 4.381 per ons, menunjukkan permintaan safe haven yang tetap kuat. Sebaliknya, harga minyak mentah WTI justru terkoreksi turun USD 1,66 menjadi USD 95,56 per barel. Bitcoin juga mencuri perhatian dengan melonjak hingga 6% di tengah sentimen risiko yang beragam.
"Pasar sedang berada dalam mode 'risk-off' selektif. Investor tampaknya memilih aset-aset yang dianggap aman seperti emas dan obligasi jangka pendek, sambil mengukur dampak dari kebijakan moneter yang lebih hawkish dari perkiraan," ujar seorang analis strategi pasar di GOLDXIETY News.
Ekspektasi Suku Bunga Berubah Drastis
Perubahan ekspektasi suku bunga menjadi sorotan utama minggu ini. Komentar dari Presiden Federal Reserve Bank of Kansas City, Schmid, yang menyatakan bahwa data terbaru mengindikasikan inflasi cenderung berada di atas level 3%, semakin memperkuat narasi bahwa The Fed mungkin perlu menaikkan suku bunga lebih lanjut.
- Pasar obligasi menerima tekanan jual beruntun, mengirim imbal hasil ke level tertinggi dalam hampir dua dekade.
- Aksi rate check oleh BOJ menambah lapisan ketidakpastian baru di pasar valuta asing.
- Indeks saham AS ditutup flat, mencerminkan kebuntuan antara sentimen positif dan negatif.
Dengan latar belakang ini, para trader akan terus memantau data ekonomi AS berikutnya serta setiap sinyal intervensi dari otoritas Jepang. Pasar tampaknya berada di persimpangan jalan: apakah The Fed akan berhenti setelah dua atau tiga kenaikan lagi, atau justru memicu ketidakstabilan yang lebih dalam? Jawabannya akan sangat menentukan arah pasar ke depan.
