Pasar saham Korea Selatan kembali dihantam aksi jual masif pada pembukaan perdagangan. Indeks acuan KOSPI merosot tajam hingga 5%, sekaligus menembus level terendah yang sempat tercatat pada bulan Juli. Penurunan drastis ini mengonfirmasi bahwa indeks kini telah terkoreksi hingga 30% dari rekor puncaknya di level 9.106 yang diraih pada 18 Juni lalu.
Beban Leverage dan Pembalikan Momentum
Kejatuhan dramatis dalam kurun waktu sekitar enam minggu ini terjadi setelah pergerakan reli yang sangat fenomenal sejak April 2025, di mana KOSPI melonjak hampir empat kali lipat dari level 2.300 hingga menyentuh puncaknya di 9.106. Bursa Korea Selatan, yang memang dikenal memiliki aktivitas perdagangan berbasis leverage cukup tinggi, kini menanggung konsekuensi dari pembalikan arah pasar yang sangat cepat.
blockquote>"Ketika tren naik berbalik arah di tengah tingginya penggunaan pengungkit, gelombang likuidasi paksa dapat tercipta dengan sangat cepat. Fokus pasar bergeser seketika dari penilaian fundamental menuju penyelamatan likuiditas," ungkap seorang strategis pasar senior.
Level Teknis Kunci yang Menjadi Perhatian
Meskipun pasar Korea Selatan sebelumnya dikenal sebagai salah satu pasar termurah di dunia dan secara relatif masih tergolong murah, pergerakan jangka pendek saat ini sepenuhnya didorong oleh momentum teknis. Kombinasi antara tren penurunan dan tingginya instrumen pengungkit berisiko memicu efek longsoran yang lebih dalam.
- Penurunan indeks telah mencapai 30% dari level tertinggi 9.106 pada 18 Juni.
- Area 5.840 menjadi level teknis utama yang dipantau pelaku pasar, sebagai titik retracement 50% dari reli sejak April 2025.
- Puncak perantara pada bulan Februari juga menjadi perhatian dalam mengukur batas pertahanan harga selanjutnya.
Hingga gelombang likuidasi posisi berganda ini mereda, volatilitas ekstrem diperkirakan masih akan membayangi pergerakan bursa saham Seoul dalam waktu dekat.
